Kelas Kupu-Kupu Jurnal 6

Pekan ini luar biasa deh, karena lagi-lagi ada hal baru yang ‘memaksa’ kita semua untuk belajar secara cepat. Jadi, di program mentoring ini aku mengambil tema tentang bermain dan belajar bersama anak, sekaligus membuat jadwal harian dan kegiatannya. Nah, selain diskusi dengan mentor aku juga sempat mengikuti beberapa kelas tentang homeschooling, school from home dan menyusun jadwal kegiatan. Sebenarnya, jadwal yang ku buat ini untuk Juli, tapi momennya pas jadi dimajukan seminggu. Alhamdulillah sempet sounding ke Ibie, jadi ketika ku ajak pilih kegiatan, dia semangat.

Berikut adalah beberapa kegiatan yang dia pilih ya.

1. Perubahan fisika dan kimia

Disini aku kasih gambar harimau karena sempet mengaum waktu kakiku kecipratan minyak dan respon ibie kurang sesuai. Alhamdulillah hanya 5 menit dan merepet panjang. Anaknya minta maaf dan kita seneng-seneng lagi.

Nah disini awalnya kita mau bikin pizza tapi batal, karena aku salah kasih instruksi di awal (salah baca resep hahaha). Aku bilang mau dibuang aja, eeh Ibie bilang “jangaaan bun, ini bisa dibikin donat” waah aku kaget juga sama solusi yang dia kasih.

Sepertinya sederhana yaa hanya bikin donat, tapi ini juga sekalian melatih sensory nya lho. Di awal ngerasa jijik, tapi setelah megang dan tau cara gimana supaya tepung ngga lengket di tangan eeh malah ketagihan.

2. Mengamati, meraba dan membaui bumbu dapur

Kegiatan ini sebenernya hampir terbengkalai, karena kalah pamor sama main layangan diluar sama papanya. Tapi adek penasaran sama bumbu-bumbu yang sudah disediain. Jadi dia mau main dan ngga berapa lama Ibie nimbrung. Awalnya mereka hanya mengamati dengan memegang dan melihat, kemudian mereka bau satu persatu, lalu aku uleg. Tak lupa ada tebak-tebakan donks. Nah ini serunyaaa. Tabina antusias jawabnya, padahal dibisikin Ibie. Ibie pun sudah mulai lihai membedakan nama-nama bumbu dapurnya. Tau ngga kenapa dia akhirnya semangat? Pakai kalimat ini “kalo kita mau jadi chef, harus bisa ngebedain bumbu-bumbu ini. Ini kan yg bikin enak masakan” hihihi.

3. Mengamati perbedaan buah dan sayur

Dulu waktu masih di Pomalaa, aku sempet ngajarin ibie bedanya buah dan sayur (pake wa tante segala lho, nanya bedanya buah dan sayur hahaha). Rupanya itu masih melekat sampai sekarang, terlihat Ibie mudah sekali dan dia mau menjelaskan ke adeknya. Setelah mereka puas eksplorasi, masing-masing anak menjelaskan ulang ke bunda tentang apa yang mereka lakukan. Masyaallah yaa keduanya bisa menjelaskan dengan sangat baik. Alhamdulillah, dari awal aku sudah menyeting supaya emosi netral, tidak mempunyai ekspektasi berlebihan. Alhasil aku juga bisa lebih menikmati dan mensyukuri apa yang mereka sajikan.

Untuk komen tentang aku dari orang di sekelilingku berasal dari Ibie. Ibie bilang seneng dan bunda lucu. Lhaa malah akunya yang seneng, karena yang melekat adalah seneng dan lucu. Itu priceless, masyaallah.

Mba Gina, juga memberikan sedikit komentar yaitu diumpakan seperti matahari pagi. Hihihi masyaallah kan jadi tersipu-sipu yaaah.

Semoga selanjutnya lancar selalu yaa….

#jurnalke6

#tahapkupukupu

#buncek1

#institutibuprofesional

Kelas Kupu-kupu Jurnal 5

False Celebration

Di tahap ini, kita merefleksikan diri kita sendiri dengan mempertimbangkan masukan dari mentor dan mentee tanpa baper. Karena jika kita bisa bertemu dengan orang yang bisa memberikan masukan secara jujur, sebenarnya itu adalah suatu kesempatan yang bagus banget. Syaratnya no baper. Hihihi.

Aku menjadikan program mentorship ini sebagai kesempatan untuk belajar lebih mendalam mengenai menyusun jadwal dan kegiatan anak-anak sehari-hari. Salah satu tujuannya adalah aku bisa melengkapi kebutuhan anak-anak yang ngga didapat di sekolah. Terutama di masa pandemi seperti sekarang. Ini bisa dibilang, belajar disaat yang tepat. Awalnya, ketika mereka semua masih bersekolah aku masih tenang, karena ada tandemnya.

Di minggu ini, aku sudah membuat jadwal harian. Kebetulan minggu lalu, aku sempet ikut kelas tentang membuat jadwal harian untuk balita. Sehingga, aku jadi lebih paham apa itu structured play, independent play dan free play. Waktu ibie kecil dulu, semua sudah dilakuin tapi ngga terjadwal. Nah rupanya ritmeku sekarang berbeda sudah ngga seflesksibel dulu, jadi perlu jadwal yang bisa dijadiin rujukan kalo pas oleng.

Ada masukan dari mba Gina untuk membuat aktivitas structured play buat Tabina. Selain itu, diberikan contoh juga kegiatan yang mengajak anak berpikir kreatif. Misal sedang hujan dan kita tanya enaknya main apa yaaa? Kalo anak jawab main air, yaudah kita main air, misal memindahkan air dengan sendok dari wadah. Dari situ anak bisa ditanya kenapa kok kali di wadah a bentuk gini, di wadah b bentuknya gitu. Seneng banget deh akunya, kan jadi punya wawasan baru kaaan. Sudah pernah ngelakuin tapi aku blom belajar caranya, jadi ini sih alamiah. Eeeh apasiiiih? Hihihi.

Untuk mentee gimana? Aku bahagia aja sih, karena kedua mentee ku rajin semuanya. Kemajuan yang mereka raih juga ngga main-main lho. Luar biasa, masyaallah tabarakallah. Bayangkan, mereka ini blom pernah ikut training EP hanya berbekal bukunya dan arahanku tapi tekad mereka yang kuatlah dan atas ijin Allah sudah mulai ada perubahannya. Bahkan sudah bisa melihat kelucuan dari anak-anaknya.

Gaya mentoring kami adalah mereka menceritakan yang sudah dijalani dan kesulitan yang sedang dialami. Di awal, aku memberikan beberapa hal yang perlu dilakukan. Ini disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Yang sama adalah senyum 20 detik selama 21 hari dan memulai hari dengan menyebutkan syukur yang sudah diperoleh. Menurutku dua cara ini sangat berpengaruh sebelum berlatih disosiasi dan reframing.

Semoga selalu diberi kemudahan ya untuk aku, baik sebagai mentee maupun mentor. Karena kedua hal ini adalah dua hal yang masuk prioritas penting dan mendesak, sehingga perlu untuk berjalan beriringan. Bahkan, dengan menjadi mentor ini aku juga belajar banyak. Apa yang kuberikan ke mereka adalah yang kulakukan juga. Semangattttt.

#jurnalke5

#tahapkupukupu

#buncek1

#institutibuprofesional

Kelas Kupu-kupu Jurnal 4

Pekan ini, kami akan melakukan review terhadap program mentorship yang sudah dilakukan. Aku akan mereview-nya sebagai mentee dan mentor.

1. Sebagai Mentee
Alhamdulillah, aku sudah bertemu dengan seorang mentor yang sesuai dengan kebutuhanku. Awalnya aku hanya ingin menyusun aktivitas untuk Ibie dan Tabina. Tetapi menimbang situasi pandemi yang menyebabkan sekolah dirumah ini diperpanjang sampai entah kapan, aku mulai mempertimbangkan opsi homeschooling yang bersifat temporary. Minggu lalu, aku sempat konsultasi dengan Mbak Gina tentang rencana yang ingin aku susun dan Mbak Gina banyak memberikan masukan mengenai tema dan sub tema. Aku menjadi mempunyai gambaran bagaimana harus menyusunnya seusai dengan kebutuhan Ibie dan aku. Minggu lalu, aku sempat mengikuti beberapa obrolan di IG live tentang membersamai anak saat sekolah dirumah dan dialog alumni elightening parenting. Sehingga, aku mempunyai pandangan baru tentang membersamai anak sekolah dirumah. Yaitu sangat perlu di diperhatikan kesiapananku, baik secara mental dan waktu. Ya kalau akunya jadi lebih pendek sumbu sabarnya dan jadi sering ngomel, tentu tujuan bermain dan belajar dengan suasana yang menyenangkan. Oleh karena itu, aku perlu melihat lagi seberapa sanggup aku melaksanakan dan tentu kemampuan dari anaknya yah. Kebetulan di sekolah Ibie, dalam seminggu hanya ada 3 kegiatan. Oleh karena itu, aku juga menambahkan 3 kegiatan saja, tetapi lebih fokus ke hal yang menarik minatnya. Sampai saat ini, hal yang menarik dan membuat dia berbinar adalah kegiatan memasak dan sains. Sehingga, kegiatan yang aku susun tentang ini. Ini belum sempat aku diskusikan dengan Mbak Gina, karena minggu lalu banyak yang harus diselesaikan. Terutama masalah kesiapan komitmen dariku. Anak akan mengikuti selama kitanya berkomitmen tinggi. Mbak Gina sebagai mentor juga ngga segan untuk mengingatkan dan terbuka apabila ada hal yang ingin di konsultasikan. Sejauh ini, aku merasa bersyukur ketemu mentor seperti Mbak Gina.
Rencana selanjutnya adalah aku ingin mengkonsultasikan rencana kegiatan yang sudah aku susun dan sekaligus share jadwal kegiatan harian.

2. Sebagai Mentor
Aku mempunyai 2 mentee. Di minggu ini, ada 1 mentee yang sudah melaporkan rencananya. Tetapi proses mentoring belum berjalan lagi, karena sepertinya Mbaknya masih repot karena anak-anaknya bergantian sakitnya. Tapi sore tadi, kami sempat chat dan kedepannya kami akan melakukan perceptual position untuk mendapatkan makna baru dan lebih memudahkan memaafkan masa lalu. Bismillah semoga Allah memudahkan. Aamiin yra.

Sedangkan untuk mentee lainnya, yaitu Mbak Isti, aku baru menerima planning kedepannya. Ada beberapa masukan yang aku beri, salah satunya adalah membuat tujuan yang WFO. Aku suka deh dengan Mbak Isti ini, karena mau mengeluarkan hal-hal yang dirasa belum paham. Sehingga terbentuk komunikasi dua arah yang aktif. Ketika membuat janji, ditepati dan jika sedang tidak bisa langsung ngabarin. Karena mentorshipku ini mengenai manajemen emosi, keterbukaan kedua belah pihak sangat perlu. Tapi memang, karena manajemen emosi juga termasuk prioritasku setelah bermain bersama anak. Aku jadi banyak belajar dari kedua menteeku ini. Alhamdulillah.

#jurnalke4

#tahapkupukupu

#buncek1

#institutibuprofesional

Kelas Kupu-kupu Jurnal 3

Libur telah tibaaa… Horeeee.

Eerrr permisiiiii, sudah mulai masuk syekolahnyaaa

Hihihi setelah libur 3 minggu, sekarang dimulai lagi kelasnya. Wuih seneng deh, karena akan ada minggu-minggu yang bermakna lagi. Di minggu ini, tugas dari bu Septi adalah membuat tujuan dari rencana yang dibuat. Karena apa yang dijalani ini akan menjadi percuma kalo ngga punya tujuan.

Di skala prioritas, aku memiliki 2 hal yang masuk skala utama. Dalam artian, aku butuh sekali kedua hal ini untuk saat ini. Apalagi ada wacana bahwa sekolah dirumah akan diperpanjang sampai Desember 2020. Nah karena itu bermain bersama anak menjadi prioritas utama dan bermain bersama anak ini membutuhkan kestabilan emosi yang ajeg. Tapi karena di kelas kupu-kupu ini, kita belajar untuk mendalami 1 hal maka aku mendalami bermain bersama anak. Nah mulai awal mentoring, aku menginginkan bermain bersama anak ini bukan hanya sekedar bermain tapi juga ada transfer ilmunya. Oleh karena itu, aku ingin membuat berbagai macam mini project. Hal ini brati, aku harus membuat jadwal harian. Untuk itu perlu menentukan tema. Aku masih merasa kurang disini, perlu banyak belajar. Alhamdulillah di jaman sekarang, kita diberi kemudahan internet sehingga aku bisa mengikuti berbagai kelas tentang home schooling yang bisa membuka cara berpikirnya. Apakah aku akan melakukan permanent home schooling? Inshaallah ngga, ini hanya temporary dan bersifat mengisi apa yang tidak bisa diberikan di sekolah.

Minggu lalu, aku sempat melihat acara live mba Okina di She and She. Sempat dibahas tentang mini project yang melingkupi 4C 1L. Ini sesuai dengan sekolah Ibie, sehingga makin membuat semangat yaaa.

Saatnya bikin jadwal. Jeng…jeng… Ku mulai kesulitan menyusunnya, mulai kekurangan ide. Hahaha. Naaah, ini adalah untungnya ada program mentorship dan alhamdulillah aku dapat seorang mentor yang sangat luar biasa. Dengan pengalamannya sebagai guru TK selama 20 tahun lebih, tentu menyusun jadwal merupakan hal yang mudah. Aku jadi tahu gimana itu tema dan sub tema. Untuk mempermudah, kita bisa menggunakan 1 tema untuk sebulan. Nah yang membedakan adalah di sub temanya.

Oleh karena itu, aku perlu berlatih untuk membuat jadwal bulanan. Diharapkan dalam 1-2 bulan ini, aku sudah paham sehingga mulai bisa membuatnya. Eh malah kalo bisa bulan depan sudah jadi sih. Kemudian, di 1-2 tahun aku sudah terbiasa dan bisa. Karena aku ingin berada di titik dimana aku ngga tergantung dengan sekolah. Maksudnya gini, kerja suami ini kemungkinan untuk dipindah-pindahkannya besar. Kalau lagi di tempatkan di kota besar kaya sekarang sih, Inshaallah aman karena banyak pilihan sekolah. Tapi gimana kalo ditempatkan di kota kecil? Mau ngga mau, aku harus ambil peran kan ya? Dan itu dimulai dari sekarang, latihan dan juga untuk membentuk kedekatan dengan anak.

#jurnalke3

#tahapkupukupu

#buncek1

#institutibuprofesional

Kelas Kupu-Kupu Jurnal 2

Setelah berkenalan oleh mentor dan mentee di pekan lalu, maka di pekan kedua ini adalah saatnya bertemu. Alhamdulillah yaa, jaman sudah canggih. Jadi ngga perlu naik mobil dulu buat ketemuan, hihihi. Yups, say thanks to technology. Kami pakai video call. Rasanya jelas deg-degan, karena baik mentor maupun menteeku ini adalah orang yang baru dikenal minggu lalu. Padahal kan biasanya, kalau video call ya sama keluarga aja, wong sama temen aja bisa dibilang ngga pernah. Tapi bukan Ibu Profesional kalo ngga penuh kejutan kan?!

Di pekan ini, kami diminta untuk melakukan self assessment sebagai mentee. Tugas mentor adalah mengulik dan bertanya. Mentor ngga boleh menyuapi dan bisa jadi mentor yang akan banyak belajar dari mentee. Selain itu, kami diminta juga untuk mengidentifikasi harapan mentee. Mentee sendiri sih yang menentukan.

Sebagai mentee, aku sangat bersyukur ketemu dengan Mba Gina ini. Karena aku jadi punya pengetahuan baru. Selama ini, aku sudah banyak melakukan kegiatan bersama anak-anak dirumah. Dari yang ala sekolahan sampai kegiatan yang having fun saja. Tapi karena aku ngga paham atau belum menemukan strong why nya. Ngga jarang sering merasa kehabisan ide dan merasa kegiatannya gitu-gitu aja, ngga penting dan berakhir bingung ngapain. Pernah juga aku pakai acuan dari paud, tapi ya lagi-lagi karena tak paham aku ngga bisa nyusun kegiatannya. Btw, ngobrol sama mba Gina ini bikin rasa deg-degan hilang karena seruuuu banget.

Mba Gina sempat menjelaskan beberapa hal yang harus didapat untuk anak umur 3-4 tahun. Aku baru kebuka donk yaaa kenapa kegiatan-kegiatan untuk anak itu perlu. Misal, untuk melatih menulis perlu menyobek kertas dulu, menggunting garis lurus, menulis diatas pasir, dsb. Sebenernya sempet dibahas waktu wawancara di sekolah Tabina nanti, tapi aku ngga ngeh 🙈 guru Tabina yang sekarang juga pernah bilang mewarnai pakai krayon, aku iya iya aja karena ngga ngerti kenapanya. Jadi suka ngasih spidol dan pensil warna juga. Bismillah, kedepannya aku mau bikin kegiatan untuk dua anak dirumah yang lebih tertata.

Sebagai mentor, bu Septi menyampaikan bahwa di pekan ini sifatnya adalah private dan exclusive. Sehingga mentor harus melakukan mentorship satu per satu pada menteenya. Karena mentee ku ada dua jadi yuk mari atur jadwal. Hihihi.

Mba Isti, kami menyepakati jadwal video call nya adalah di hari Rabu di jam 6 pagi. Enaknya kalau pagi gini adalah rumah masih sepi, ya walau Ibie ngikut juga sih disebelahku dan sesekali ikut masuk juga. Hihihi. Yang aku suka dari mba Isti adalah semangatnya. Setengah enam pagi, ingetin aku jam 6 ada mentorship. Nah mentee yang kaya gini ni yang ku suka. Semangat membara.

Menurut mba Isti, manajemen emosi ngga masuk di mind map nya tapi setelah melahirkan, rupanya manajemen emosi lebih diperlukan. Mba Isti juga menyatakan siap untuk mengejar ketertinggalannya beberapa bulan ini untuk belajar manajemen emosi. Dia juga sudah bersiap mencari buku referensi. Minggu lalu, waktu kita ngobrol aku sempet bilang tentang pencatatan saat anaknya yang besar katanya suka usil dan beneran dilakuin. Katanya ternyata si mas ngga usil terus kok, hanya 3-4 kali kalau beneran bosen. Aku yang diceritain ini ikutan seneng lhooo. Durasi video call kami sekitar 40 menit.

Mba Eka, siang tadi kami baru berkesempatan video call. Awalnya, kami menyepakati di hari Rabu jam 9 malam. Tapi di ubah jadi hari ini jam tiga kurang. Sebenarnya di pekan lalu, kami sudah banyak ngobrol tentang kesulitan yang dihadapi. Oleh karena itu, tadi langsung ke poin apa yang sudah dilakukan dan harapan ke depannya ingin seperti apa. Tadi kami ngobrol selama 10 menit dan sebagai latihan, aku meminta untuk melakukan senyum 20 detik, detektif kebaikan, serta menegur dan memuji efektif. Mba Eka pun sempet wa, dia bilang hari ini berhasil mengelola emosinya. Masyaallah, aku beneran bahagia lho.

#jurnalke2

#tahapkupukupu

#buncek1

#institutibuprofesional

Kelas Kupu-Kupu Jurnal 1

Ada kejutan tak terduga di kelas kupu-kupu ini. Bikin hati yang awalnya tenang jadi deg-degan ngga karuan. Apakah ituuu? Yaaa, ada program mentorship. Jeng…jeng…

Jadi gini, seperti yang kita tahu kalau program mentorship itu ada mentor dan mentee. Nah tugasnya adalah menjadi keduanya. Kalau jadi mentee, inshaallah sudah punya pengalaman lah ya. Kan sekolah sudah mulai TK hehehe. Nah kalau yang jadi mentor ini yang merupakan hal baru untuk aku. Mentor ni ibaratnya adalah seorang coach. Sebenarnya tidak ada suatu keharusan untuk menjadi mentor sekaligus mentee disaat yang sama. Menurut bu Septi rugi banget kalau hanya menjadi salah satunya. Kata-kata bu Septi ini yang menjadikan aku berani untuk mengambil tantangan sebagai mentor.

Sebelum aku bercerita di tentang menjadi mentor, aku akan bercerita tentang aku sebagai seorang mentee ya. Disini aku memutuskan untuk mengambil topik tentang ide bermain kreatif. Karena kondisi dirumah saja sepanjang hari plus ada anak yang sedang belajar puasa, diperlukan kegiatan yang beraneka ragam. Oleh karena itu, aku butuh ide segar.

Mentorku adalah mba Gina yang kebetulan dari IP Jakarta juga. Rupanya mba Gina ini adalah seorang guru TK yang sudah berkecimpung selama 20 tahun. Masyaallah ya, secara pengalaman Inshaallah tidak diragukan lagi. Aku jadi ngga sabar untuk belajar bersamanya mulai minggu depan. Semoga dipermudah seluruh prosesnya ya. Aamiin yra.

Selanjutnya tentang aku sebagai seorang mentor. Beneran deh, awalnya ngga tahu apa yang bisa ditawarkan. Karena ngga merasa mempunyai suatu keahlian yang bisa dibagikan. Yaa urusan masak masih gitu-gitu, beberes apalagi, masa ku mau ngomongin tentang how to make waste water treatment unit ya? Hihihi kaya masih inget aja. Jadi, aku mencari dari sesuatu yang aku suka dan sudah diterapkan di keseharian. Akhirnya aku memilih untuk bagaimana mengelola emosi ketika membersamai anak. Masyaallah, baru aja posting di fb grup dan belum hitungan jam sudah ada 7 orang yang chat. Alhamdulillah sempat ngobrol dengan orang yang pertama chat aku, aku jadi ngeh kalau ngga mungkin aku menerima banyak mentee. Oleh karena itu aku hanya sanggup menerima 2 mentee. Ini dia menteeku.

1. Eka, berasal dari IP Bandung dan sedang tinggal di Cimahi. Mempunyai 3 orang anak dan ibu rumah tangga.

2. Isti, berasal dari IP Jakarta dan mempunyai 2 orang anak, ibu rumah tangga juga.

Kami banyak ngobrol tentang kesulitan yang sedang mereka alami. Sudah terbayang apa yang bisa aku berikan. Semoga Allah mempermudah prosesnya, karena aku bukanlah seorang ahli, team sharing EP juga bukan. Aku hanyalah seorang alumni EP yang merasa terbantu sekali, oleh karena ingin berbagi sedikit dengan mereka semua. Aamiin yra.

#jurnalke1

#tahapkupukupu

#buncek1

#institutibuprofesional

Aliran Rasa Kelas Kepompong

Masyaallaah, Alhamdulillah. Cuma 2 kata ini yang bisa terucap waktu aku setor tantangan hari ke 30. 30 hari itu lamaaaa lho, tapi aku bersyukur hari-hariku dirumah aja ini ditemenin sama tantangan 30 hari ini. Alhamdulillah jadi lebih bisa me-manage rasa bosan. Karena setiap hari selalu ada tantangannya, jadi di kepala ini cuma kepikiran hari ini ngapain ya? Besok ngapain ya?

Tapi kalo ngga ada tantangannya ya ngga bakal dikasih nama tantangan 30 hari donk ya. Karena aku mengalami yang namanya mati ide, ngga tau lagi mau ngapain. Kosong aja gitu. Naaah aku ngalamin ini di 10 hari terakhir, malah sempet salah ngitung hari dan kayanya sih karena ini jumlah hari tantanganku kelebihan 1. Hihihi. Jadi begitu selesai, rasanya masyaallah seneeeeng banget. Juga sempet liat live bu Septi dan pak Dodik di FB grup, ternyata menyelipkan rasa bangga di hati ini. Mungkin karena sudah sibuk dengan identitas ibu anak-anak dan istri pak A, jadi lupa rasanya untuk achieve sesuatu. Gini lho yang bikin aku makin cinta Ibu Profesional. Bisa nyentuh sampai dasar hati.

Inshaallah, setelah ini aku siap menjadi kupu-kupu. Semoga prosesnya dimudahkan oleh Allah Swt, bukan hanya sekedar tulisan tetapi juga di kehidupan nyata. Aamiin yra.

Seharusnya pake foto hihihi

#aliranrasatahapkepompong

#buncek1

#institutibuprofesional

Kelas Kepompong Puasa ke empat

Puasa kali ini adalah berpuasa dari langsung kabur setelah selesai. Alias harus dzikir dulu. Kriterianya adalah sebagai berikut:

Excellent:

Membaca Al Quran

Dzikir

Membaca ayat asy syifa pagi dan petang

Very Good:

Dzikir

Membaca ayat asy syifa pagi dan petang

Satisfactory

Dzikir

Need improvement

Langsung kabur

Naaaah di puasa kali ini aku ngga puas banget, maunya kan excellent yaah. Tapi ngga. Huhuhu. Walau setelah periode puasa ini, tetep semangat sih baca ayat asy syifa nya plus dzikir.

Kelas Kepompong: Puasa Tahap 3

Di puasa tahap ketiga ini, aku memilih untuk puasa tidur siang 😆

Selama ini, aku merasa harus tidur siang walau cuma sebentar. Jadi kalo ngga tidur siang, aku ngerasa takut sakit karena untuk tidur malem pun masih beberapa kali bangun. Kalau anak-anak semuanya mau diajakin tidur siang sih, itu bukan masalah. Hanya saja, Ibie ngga mau ikutan tidur siang. Nah, ada rasa kesel karena akhirnya aku ngga bisa tidur padahal ngantuk dan ini mempengaruhi mood untuk beraktivitas selanjutnya bersama anak-anak. Untuk itu, aku memilih puasa tidur siang dan mengisinya dengan kegiatan bersama mereka. Yang perlu dilakukan adalah aku harus melakukan reframing bahwa siang hari adalah waktunya beraktivitas bebas bersama mereka dan aku juga melakukan asosiasi, mengingat-ingat waktu aku masih kecil dulu, siang hari itu sepi, banyak orang tidur dan ngga ada yang bisa diajakin main. Ya walo aku main sendiri sih tapi kan lebih seru kalo bareng-bareng yaa? Berbekal rasa ini, aku mencari berbagai macam aktivitas untuk bisa dilakukan di siang hari. Kalo pagi, aku lebih banyak nemenin mereka ngerjain tugas dari sekolahnya, bersih-bersih rumah dan masak. Nah siang waktunya main santai bersama. Di sore hari, giliran mereka main sama papanya dan ngga lama setelahnya sudah tidur semuaaaa. Aku jadi punya me time yang cukup panjang jadinya kaan?

Btw, kalo ngantuk banget gimana? Kalo sampai kepala sakit ya tidur siang donk, cuma itu solusinya tapi kalo ngantuknya hilang saat aktivitas brati yaa bukan masalah.

Untuk puasa kali ini, aku memberi excellence 😍😍😍

Kelas Kepompong Puasa Tahap 2

Pada puasa tahap 2 ini, aku memilih untuk lebih bisa mengatur diri untuk mencari ide permainan sebelum nonton drakor ato stalking IG. Hihihi. Biasanya itu, aku nyari ide ya hari itu juga. Jadi hariku dimulai dengan banyak pikiran, yang riskan akan benturan-benturan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk puasa dulu langsung nonton dan stalking.

Apakah semuanya berjalan mulus kaya jalan tol yang baru saja diresmikan? Tentu tidyaaak sodara-sodara. Aku merasa cukup dengan sekedar mengingat tanpa ditulis baik di note maupun di kertas, alhasil ketika bangun aku lupa mau menyiapkan permainan apa. Tapi alhamdulillah mereka tetap berkegiatan, yaitu memasak bersama. Beneran deh ini tu rencana cadangan yang selalu ada. Hihihi.

Beberapa hari setelah jatuh bangun mengingat ide, akhirnya aku nulis di note hp. Memang sih apa yang ditulis beneran itu dilakuin lho. Karena inget mau ngapain.

Jadi untuk minggu ini aku masih dapet badge very good. Alhamdulillah.